-theycallmetheendofstories


The Owner

theycallmetheendofstory
Hanya seorang penulis yang merasa dan mengaku bahwa dirinya seorang Slytherin. Seratus persen berasal dari distrik Karier. Sering kali mengalami penyakit dengan judul writer's block dan mager. Seorang koleris-melankolis. Sick, biaswhore, bipolar—that's enough.
let's play! :)

Hwat? Mischief managed Nox!

Well?
Sejauh ini saya menyukai dunia baca dan tulis. Belum berani mengaplikasikan tulisan saya ke umum karena penyakit saya sendiri (all hail writer's block dan mager!). Bukan penulis yang baik, jadi maklumi saja jika ada alur atau diksi saya yang membuat kalian mual, muak, bahkan malas untuk membacanya lagi.
Oh wait, am I need some chatbox?

friends
your links go here,
tumblr

thanks
© * étoile filante
inspiration/colours: mintyapple
icons: me reference: x / x

past
July 2010
September 2010
October 2010
May 2012
June 2012
October 2012
title: "I can't even dare to even hope I missing you."
date: Monday, May 14, 2012
time:9:44 PM

Title: "I can't even dare to even hope I missing you."
Rating/genre: General/Angst. Oneshot :"|b
Disclaimer: Universe milik om Rick Riordan. Bukan! Milik saya! Beckendorf milik saya! Karena Beckendorf milik saya, akan saya buat bromance sebanyak mungkin antara Beckendorf dan Percy! HAHAHA. Bercanda #krik. IndoOIympians milik para staff. Eleni Covenant milik PMnya, Reyna Trinesh milik PMnya, dan Summer Cooper milik saya. Beberapa karakter yang mungkin saya sebut namanya milik masing-masing PM (sudah mendapatkan izin, alhamdulillah). Saya tidak menghasilkan uang melalui ff ini hanya menghasilkan gosip tidak jelas, tolong jangan amuk saya :"| #dibuang. 
A/N: Ini efek karena udah terlalu lama ga ngetik ff. Terus efek masih fangirlingan mini album dari salah satu grup. Judul lagu juga credit ke Woolim Ent & INFINITE. Seorang authoress gagal total sehingga sangat menerima review dan saran maaf, saya nggak terima kritik ataupun flame, ya :| #plakabis.


-------------------



---------------


"Where am I, sire?"

"...."

"Am I... dead?"

"It's okay, dear. It's okay."


Ia berada di kerumunan orang berbaju abu dengan kulit pucat. Summer menahan diri untuk tidak berbalik dan mendapati bahwa dia memang sudah meninggal. Tungkainya bergetar ketakutan menghadapi fakta yang sering diucapkan sahabat sekaligus satir penjaganya. Umur blasteran tidak pernah panjang. Kemungkinan mereka untuk menikmati masa remaja saja tipis sekali. Gadis cilik itu sudah berkali-kali menerapkan kalimat penenang agar ia tidak takut jika hari ini datang. Jika hari dimana benang kehidupannya terputus dan nafasnya terhenti begitu semua itu berlalu. Kematiannya.

Matanya berat. Masih ada bulir air mata yang tersisa di sudut matanya. Summer Duerre Cooper meninggalkan dunia fana selamanya tanpa harus tumbuh lebih jauh. Tanpa mengucapkan selamat tinggal pada perkemahan ataupun paman sekaligus ayah angkatnya. Senyumnya pudar seketika mendapati bahwa semua yang ada di sekitarnya sudah tidak bernyawa. Mereka mati. Kehidupan mereka berakhir. Tidak beda jauh dengan anak perempuan yang beberapa jam lalu masih sibuk dengan pasta dan beberapa makanan lainnya alih-alih mengusir rasa bosan karena ayahnya tidak ada di sisinya untuk ke sekian kali.

Bahkan satirnya pun tak memberikan kejutan apa-apa. Mungkin ini imbas dari beberapa hal yang menimpanya di perkemahan tahun lalu. Makhluk baik dan segala tindak tanduk mereka. Yang bahkan dewa maupun dewi, baik Olympia maupun minor, tidak akan bisa langsung turun tangan jika melihat salah satu anak blasteran mereka diusik mereka. Tidak akan bisa langsung turun tangan atau justru enggan? Selalu ada kelebat pertanyaan mengganggu di benak Summer. Jika sebegitu tidak diinginkannya mereka, para blasteran, lantas mengapa mereka, para sosok abadi, tidak membatasi diri berhubungan atau menciptakan kontak langsung dengan para mortal? Atau sesungguhnya blasteran diciptakan untuk dipermainkan? Dimanfaatkan?

Ia ingin berlari. Mungkin lebih baik lagi jika pria dengan jas tua di depannya berteriak bahwa ini hanya tipuan satu April. Tapi ide itu langsung ditepisnya begitu mengingat bahwa tanggal satu April masih sangat jauh di depan mata.

Jemarinya meraba pakaian terakhir yang dikenakannya. Masih sama. Hanya tambahan beberapa bercak merah kering di dada kirinya. Entah miliknya atau blasteran lain yang juga bersama—kemudian pergerakannya berhenti total. Jantungnya tadi tidak pada tempatnya. Hilang. Namun bekas robekan itu tertutup rapi. Apa organ satu itu seharusnya berdenyut disana? Apakah masih ada disana? Atau justru sudah hilang dan dilumat oleh makhluk baik yang dengan seringai kemenangannya membawanya jauh dari atas tanah dan mencabutnya tanpa permisi?

Sunyi dan kelam. Kedua iris biru cerahnya mencari sosok yang awalnya ada bersamanya. Tentu bukan makhluk baik yang dengan murah hati mengantarkan Summer ke tempat ini. Mungkinkah blasteran itu selamat? Atau justru masih berjuang? Berjuang agar ia bisa kembali ke perkemahan. Atau takdir mempermainkan blasteran yang dimaksud Summer—menghalau jalan untuk berada disini.

Bahunya merosot jatuh. Tangisnya masih diredam dengan kedua tangannya. Sahabat sekaligus saudarinya. Ellen—apakah gadis itu tahu bahwa Summer kini sudah berada disini? Menunggu panggilan untuk kehidupan selanjutnya. Atau justru dia akan mendekam disini hingga ratusan tahun ke depan. Summer kehilangan semua begitu ia ingat tahun lalu memilih untuk mundur dan memberikan Ellen ruang dengan keluarganya. Sahabatnya itu selalu menginginkan keluarga lengkap dan utuh. Ayah tiri sahabatnya tidak begitu menyenangkan jika dibandingkan dengan dewa Hermes, tentu. Dan karena itu Summer pada beberapa waktu memberikan ruang.

Kini, rencana untuk menghabiskan liburan sebelum kembali perkemahan bersama Ellen pupus sudah. Rencana untuk menginap di rumah sahabatnya itu, bertemu langsung dengan wanita yang mengandung dan mengasuh sahabatnya; merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga utuh bagi Summer rasanya mustahil. Bahkan makhluk baik pun tahu. Mereka menggagalkan hal yang sudah dirancang si kecil tadi sejak jauh hari. Dengan hasil sukses besar.

Penyesalan selalu datang terlambat. Seharusnya ia mengirimkan pesan Iris dan mempercepat rencananya. Menyampaikan hal tentang acara inap itu kepada sahabatnya—sahabat satu-satunya. Dan mungkin justru kawan satu-satunya yang mau berada di sisi Summer. Pelengkap untuk puteri tunggal Hallena.

Tidak ada lagi senyum yang bisa tertangkap kedua retinanya dari puteri Covenant. Tidak ada lagi celoteh riang Ellen yang ditangkap oleh indera dengarnya. Tidak ada lagi tangan yang bisa ia gamit saat ia merasa takut atau resah. Summer sendiri. Sama seperti sebelum ia masuk ke perkemahan dan resmi tahu bahwa ayah kandungnya adalah dewa. Yang sebelumnya bahkan ia tak tahu siapa. Dan untuk memikirkan sosok itu pun Summer tak berani. Gadis kecil Cooper takut akan erangan protes mengenai luka yang dilihatnya di perkemahan, semua yang menimpa para blasteran, dan tangisnya pasti akan pecah seketika jika mengetahui siapa beliau. Sosok abadi yang tega meninggalkan ibunya, yang tega meninggalkan Summer dalam buaian; ternyata adalah sang dewa pejalan. Menjelaskan bahwa Summer dan Covenant cilik memang satu darah. Dadanya semakin sesak.

Dan momen kabur mendadak muncul di pikirannya. Makhluk baik. Salah satu blasteran bersamanya. Salah satu penghuni kabin Dua Belas. Lalu seperti yang dialami kebanyakan blasteran, Summer berusaha melawan dan membantu. Dan seperti kebanyakan akhir yang didapatnya, hal itu justru memacu yang lebih buruk. Seketika otaknya memberikan respon bodoh mengenai raga si kecil itu. Apakah blasteran juga dikuburkan dengan layak? Atau jasad mereka dikoyak dan disantap tanpa hati nurani oleh mereka—makhluk baik?

Aku merindukanmu, Ellen.

Mendadak ia teringat pada tiga kata yang selalu disusun oleh otaknya. Kalimat itu tertahan di tenggorokannya sejak lama. Pita suaranya enggan bekerja untuk menyuarakan hal tersebut. Pijar api kehidupannya sudah hilang. Dia tidak bisa melangkahkan kaki keluar dari tempat ini. Hanya bisa menunggu. Menunggu kapan ia akan mendapatkan gilirannya. Mendapatkan secercah harapan untuk kembali bernapas normal. Mungkin sebagai manusia fana. Ia bisa menerima itu. Atau kembali menjadi seorang blasteran. Sama sekali bukan soal besar lagi—seharusnya begitu. Bukan soal besar lagi. Summer bisa memperbaiki kekurangannya; berlatih lebih keras dan memaksakan diri. Itu pun kalau diberikan kesempatan untuk hidup kembali.

Ia menarik napas panjang. Berusaha mengumpulkan aura positifnya sendiri. Ia tidak bisa menyalahkan siapa pun karena kini ia berada disini atas dirinya sendiri. Bukan siapa pun—yah, mungkin beberapa makhluk baik boleh disalahkan.

Perkemahan. Berapa lama ia tak akan tahu mengenai kabar para pekemah? Omong-omong, sudah berapa lama ia kini disini? Atau akan seberapa lama ia disini? Memori di kepalanya memunculkan memori di tahun ketiga. Apakah kak Iolite masih sama?—surai pirang platina dengan iris biru terang yang memberikan kesan galak namun pada kenyataannya penilaian sepihak Summer pupus begitu peristiwa tahun ketiganya dengan Phyton. Apakah masih kepala babi yang akan menjadi penyambut kabin lima?

Benaknya melayang ke suasana perkemahan. Kabin satu milik dewa Agung. Jelas kosong dan tidak ada penghuninya. Sumpah itu tidak mungkin dilanggar, bukan? Atau dewa bisa juga bisa bersikap licik? Sekalipun sang raja dari para dewa? Rasanya mustahil. Lalu kabin dua, Hera. Si kecil Cooper yang mengagungkan sosok seorang ibu, beberapa tahun lalu sempat mengidolakan sang dewi. Hanya sayangnya begitu kabar burung para satir tersebar soal penculikan putri dewa anggur, ia mencoret nama sang dewi dari daftar teratas. Kabin tiga, Poseidon. Dia tidak begitu menarik minat pada beliau. Kabin empat, Demeter. Halo kak Lix—hanya anak laki-laki itu yang ia tahu dengan jelas namanya. Kabin paling asri dengan sosok ibu yang tentu perhatian. Kabin lima, sudah disebutkan. Kabin enam—kak Clifford dan Isabella, salah satu dari Salisbury bersaudara. Athena dengan keturunannya yang brilian. Ada rasa bersalah menyergap Summer karena tawaran buah kalengnya kini hanya jadi satu bentuk ingkar janji. Kabin tujuh—cahaya maniknya redup sesaat. Cahaya matahari. Musim panas. Summer merindukan terik matahari di atas kepalanya. Bau angin musim panas. Kesemuaannya.

Kabin delapan, milik dewi Artemis. Perawan dan tidak akan ada penghuni untuk kabin itu kecuali para pemburu berada di perkemahan. Yang belum pernah Summer lihat dengan maniknya sendiri mereka masuk ke batas perkemahan dan mengangkat tangan alih-alih mengucapkan salam pada para pekemah—tidak mungkin melakukan itu pada Chiron atau bapak Dionysus, bukan? Berlanjut pada kabin sembilan, dewa penempaan. Sebut saja, dia selalu melewatkan kelas ini lantaran kebodohannya sendiri. Dia tidak kenal siapa-siapa, seingatnya begitu. Atau mungkin ia pernah tanpa sengaja mengobrol tanpa sebut nama dengan seseorang. Memorinya payah. Lalu kabin sepuluh. Summer berusaha mengingat kabin milik siapakah yang baru ia pikirkan. Jemarinya mulai melakukan hitungan sembari mulutnya bergerak menyebut nama sosok abadi di Olympus. Aphrodite, sang dewi cinta. Tidak kenal siapapun sepertinya. Mungkin ada satu dua, namun sama seperti kabin sembilan. Ia tidak ingat.

Kabin sebelas. Lidahnya kelu, pikirannya menderita lagi begitu melayang pada beberapa rutinitas di kabin Hermes. Terlalu banyak kenangan di kabin ini. Kak Skylar—yang wajahnya selalu lalu lalang di kabin ini lantaran menjadi konselor. Lalu ada beberapa pekemah lainnya. Frauke, anak kecil bersurai pirang yang pernah membantunya mengemasi barangnya; yang lalu membuatnya heran, mengapa Summer bisa ingat nama gadis cilik ini? Mungkin karena kebaikannya. Lalu ada Michael, Carina, Harold, dan tentu saja, Eleni Covenant. Kembali sisi negatif menyerangnya. Membuatnya terdiam beberapa saat. Sedang apa Covenant muda itu? Apakah ia masih tertawa hingga detik ini? Apakah ia masih ingat bagaimana rasanya saat menghabiskan waktu bersama Summer? Oh, drama dan hiperbolanya. Si kecil itu sedang diliputi aura semacam itu.



.


.



.


I don’t have anything I can give you, missing you.
I can’t even tell you heartwarming words, but I missing you.
I can’t dare to even hope, but I missing you.
So I push you away like this



.


.



.



Kepalanya digerakkan perlahan. Berusaha menepis pemikiran-pemikiran yang mungkin muncul beribu kali jika ia tak buru-buru menghilangkan perasaan yang memberatkan udara. Mereka aman disana. Mereka aman di perkemahan. Tentu dewa Hermes tak akan membiarkan banyak masalah menimpa pada putera dan puterinya. Lalu kabin terakhir. Kabin Dua Belas. Seolah ada yang menendang telak di bagian ulu hatinya. Ia tentu tidak akan mendapatkan maaf dari dewa Dionysus seandainya ia masih hidup. Mungkin akan ada kutukan terburuk yang akan menimpa Summer seandainya ia berhasil selamat sedangkan anak perempuan beliau tidak. Kini entah ia harus bersyukur atau tersenyum miris menghadapi fakta itu. Atau justru menangis lantaran puteri sang dewa anggur belum berada disini bersamanya. Kemungkinan selamat masih bisa diraih jika Summer tidak ingat seperti apa makhluk baik yang menyergap sang dara.

Hydra bukanlah tipe makhluk baik yang doyan tawar menawar dengan kepala tukar kepala. Kalau pun makhluk satu itu punya prinsip kepala tukar kepala, akan ada kepala lainnya yang siap melahap sang blasteran. Bahunya merosot jatuh. Reyna Trinesh belum dikenalnya dengan baik selama di perkemahan. Saat ia bertatap muka pun hanya akhir musim panas tahun lalu. Di dekat api unggun dengan sedikit masalah kecil. Bagaimana sang dara Trinesh itu?

Cooper kecil menelan salivanya sendiri. Menatap antrean di dekat meja milik penjaga. Musik yang mengalun tidak membuatnya merasa baikan. Antrean itu begitu penuh. Begitu sempit kemungkinan bahwa Summer akan maju lebih cepat. Begitu sempit kemungkinan Summer untuk mulai diadili. Menghirup udara bawah tanah, seandainya bisa ia lakukan, mungkin akan membuatnya lebih depresi daripada saat ini. Kakinya kemudian bergerak menuju salah satu dari barisan sosok abu terdekatnya.


"Apa selalu selama ini?"

"Apanya?"

"Antreannya?"

"Biasanya, sih. Tergantung Charon mau berapa lama."

"Chiron?"

"Charon, bocah. Bukan Chiron."

"Oh. Maaf."

"Kau blasteran, ya? Mati karena apa? Kebanyakan makan ambrosia?"

"Ya dan bukan."


Berbalik dan meninggalkan sosok abu yang masih merepetkan pertanyaan padanya. Dada Summer dibuat seolah menghela napas pelan. Rutinitas itu sudah berhenti. Bernapas. Udara. Oksigen. Ia rindu itu semua. Bahkan menggapai gurat-gurat jingga di langit sore yang bahkan tak mungkin ia gapai. Berkas itu juga untuk beberapa waktu ke depan tak mungkin ia nikmati. Cahaya. Ayah angkatnya. Satirnya. Dan kabin ayahnya. Halo papa, sedang apa di Olympus? Sudah dengar kabar terbaru di bawah tanah?

"Cooper?" Serta merta panggilan itu membuatnya menengok. Bibir bawahnya digigit kuat-kuat mendapati bahwa blasteran yang dilihatnya petang tadi ada disini. Bergabung bersamanya. Rasa lega, takut, bersalah, dan marah menyergapnya secara bersamaan. Salah satu blasteran dari kabin dua belas menyapanya dan kemudian tersenyum tipis. Wajahnya terlihat tidak berbeda jauh dari yang ia ingat. Hanya bercak darah di beberapa titik mewarnai penampilan anak perempuan Dionysus itu.

Kaki Summer mengikuti perintah kerja otaknya. Berjalan, bahkan kini berlari menggapai gadis Trinesh. Memeluknya. Menautkan jemarinya satu sama lain, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa baik si kecil itu ataupun Reyna tidak sendiri. Tangisnya pecah seketika. Meski sudah berusaha menenangkan diri seperti ini, tetapi ia tidak bisa merasakan hangat atau bau tubuh seseorang yang membuatnya nyaman dan tenang. Tepukan pelan di kepalanya membuatnya hanya tersenyum pahit. "Sudah, Cooper. Aku juga takut kok."

Mendongak dan menghapus tetesan hangat itu dari pipinya. Kepalanya mengangguk pelan alih-alih menyatakan perasaannya dan pasrah saja. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Menyuap pria yang katanya bernama Charon? Dengan apa? Dia tidak punya apa-apa. Bahkan giliran untuk pendaftaran kehidupan selanjutnya saja ia harus ada dalam barisan akhir. Mendahulukan mereka yang sudah ada terlebih dahulu. Binernya memandang sosok jangkung di sampingnya. Berbisik kecil sembari menggamit jemari gadis itu. "Cooper? Kau nggak apa-apa?" Pertanyaan itu termasuk jenis perhatian singkat untuk keadaan saat ini. Summer cukup membutuhkan itu meski bisa ia asumsikan bahwa ia sendiri tidak dalam kondisi baik untuk menerima jenis tanda tanya itu. Gelengan cepat adalah respon terbaiknya. Tidak apa-apa dan semua baik-baik saja; itu yang berusaha ia tanamkan kini. Lalu yang ia terima selanjutnya sebuah tepukan dan pelukan penenang sekali lagi. Terlalu banyak pengulangan, ya, Summer sendiri tahu itu. Pada akhirnya tangannya menarik tangan itu, menariknya untuk turut berdiam di satu barisan. Bisikan yang kemudian dilontarkan Reyna Trinesh membuatnya geli sendiri. "Aku disini, Cooper. Kau juga disini bersamaku, kan? Santai saja. Pasti tidak lama—kalau si Charon itu ingat juga ada blasteran menganggur disini." Tidak lama. Ya, tidak akan lama. Tapi sayang, waktu berhenti baginya. Jadi tidak lama itu bisa berarti selamanya untuk Summer Cooper, seorang anak perempuan berusia sebelas tahun. Salah seorang penghuni tetap kabin sebelas dengan surai hitam dan manik biru cerah yang menderita disleksia dan Gangguan Pemusatan Perhatian-Hiperaktivitas sejak lahir. Bernasib tidak jauh beda dengan blasteran kebanyakan; dengan kemampuan minim dan hampir tidak bisa diandalkan.

Jadi kini: halo dunia bawah tanah? Oh, halo dewa kematian.


Labels: , , , ,



comment? / top