-theycallmetheendofstories


The Owner

theycallmetheendofstory
Hanya seorang penulis yang merasa dan mengaku bahwa dirinya seorang Slytherin. Seratus persen berasal dari distrik Karier. Sering kali mengalami penyakit dengan judul writer's block dan mager. Seorang koleris-melankolis. Sick, biaswhore, bipolar—that's enough.
let's play! :)

Hwat? Mischief managed Nox!

Well?
Sejauh ini saya menyukai dunia baca dan tulis. Belum berani mengaplikasikan tulisan saya ke umum karena penyakit saya sendiri (all hail writer's block dan mager!). Bukan penulis yang baik, jadi maklumi saja jika ada alur atau diksi saya yang membuat kalian mual, muak, bahkan malas untuk membacanya lagi.
Oh wait, am I need some chatbox?

friends
your links go here,
tumblr

thanks
© * étoile filante
inspiration/colours: mintyapple
icons: me reference: x / x

past
July 2010
September 2010
October 2010
May 2012
June 2012
October 2012
title: "If happy ever after did exist."
date: Saturday, June 23, 2012
time:7:22 PM
Title: "If happy ever after did exist."
Rating/genre: General/Angst. Oneshot :"|b
Disclaimer: Universe milik om Rick Riordan. Bukan! Milik saya! Beckendorf milik saya! Karena Beckendorf milik saya, akan saya buat bromance sebanyak mungkin antara Beckendorf dan Percy! HAHAHA. Bercanda #krik. IndoOIympians milik para staff. Basil Collins milik PMnya. Yang saya punya disini hanya plot dan Kurt Collins.


 .

.

.

Usianya baru menginjak angka tujuh pagi ini. Udara memberat di luar. Musim dingin sudah mulai menyapa. Dering demi dering untuk menghadapi kenyataan bahwa akan ada hari berat di sekolah kembali membebaninya. Si kecil itu terduduk di tepian kasur. Obsidiannya menatap surai kembarannya yang masih terlelap. Alih-alih membangunkannya, ia meraih bantalnya dan melemparkan substitusi tersebut tepat ke wajah bocah yang masih mendengkur halus dan terbuai mimpi. "Bangun, tukang tidur. Ucapkan selamat ulang tahun untuk kita." Sebuah kebiasaan yang mungkin dilakukannya kemudian setiap tahunnya.

Kaki-kakinya kemudian mulai menuruni satu per satu anak tangga. Membuat suara setenang mungkin, bahkan nyaris tidak terdengar langkah demi langkahnya. Dan yang tertangkap oleh kedua kelerengnya adalah wanita itu. Menunduk di meja dapur. Menyimpuhkan diri dalam doa. Begitulah yang dilihat Kurt Collins. Sayup-sayup bahkan ia mendengar isak tangis. Sebuah kesedihan nyata yang membuatnya mau tak mau kemudian terdiam pada satu anak tangga. Memerhatikan ibunya. Memerhatikan gerak-gerik itu, hingga ia yakin bahwa yang terucap adalah ayah.

Tidak pernah ada topik mengenai hal itu di rumah ini. Bahkan sekalipun meski terlintas di benak Kurt untuk menanyakannya, karena lumrah jika seorang anak menanyakannya. Menanyakan keberadaan ayah kandungnya sendiri. Tetapi setiap melihat perubahan ekspresi yang nyata di wajah Nora, bibir pemuda kecil itu terkunci rapat. Enggan dibuka kembali karena kerut demi kerut kesedihan ditunjukkan Nora walau wanita itu berusaha menyembunyikannya.

Pagi ini begitu berbeda. Butiran itu melesat tanpa penghalang. Memberikan penjelasan seolah pada pengamat bahwa ada kesedihan mendalam yang disembunyikan dari kedua putera Nora. Kurt berbalik. Memilih untuk pura-pura bahwa ia tidak tahu. Membiarkan ibunya hingga tenang dan merasa lebih baik. Karena usianya masih berada pada titik tujuh, dan anak laki-laki itu masih belum tahu bagaimana untuk bersikap terlalu banyak. Menenangkan ibunya seperti biasanya ibunya menenangkannya terlihat begitu susah. Bibirnya butuh lebih dari sekedar mantra untuk mengembangkan senyum itu.

Diputar kenop pintu kamarnya dan Basil. Siluet bocah di atas tempat tidur membuatnya menghela napas perlahan. Dipijit ringan kepalanya sendiri, lalu memakai sepatu kets dan menyambar topi serta tas selempangnya. Berusaha mencari distraksi. Secarik kertas pun diraihnya dengan sebatas pensil. Menggambarkan sebuah kedai, karena disleksia yang diderita keduanya tidak membantu sama sekali menggambarkan kedai yang dimaksud; dimana keduanya pasti akan selalu berada di jalanan sempit kedai itu jika merasa penat. Seperti yang dirasakan si kecil Kurt.




.


.



.


Tungkai itu berhenti seketika di ujung jalanan. Obsidian itu menyipit, berusaha menangkap kelam dari substitusi di seberang. Seseorang sudah berada pada jalanan sempit di belakang kedai. Tetapi seorang Kurt tetaplah pribadi yang masa bodoh dengan siapapun anonim di depannya selama tidak mengganggunya sama sekali. Bahkan sekalipun ia melihat bahwa anonim itu menatap ke arahnya. Tepat ke obsidiannya. Bibir anonim membentuk simpul sederhana di balik simpuhannya sendiri.

"Anda baik-baik saja, pak?"

Anonim itu semakin memerhatikannya tepat ketika bibir Kurt bergerak menanyakan pertanyaan sederhana. Sebuah pertanyaan yang terpicu karena rasa familiar dan rasa sakit hati yang tinggi pada sosok tersebut. Yang entah bagaimana merayap begitu saja. Otaknya seolah terancang untuk menyusun deretan tanda tanya pada pria di seberang hidungnya. Menuntut kejelasan.

"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"

"Tidak sama sekali."

Kurt hanya berusaha jujur. Rasa marah itu menggelegak. Obsidiannya memandang dingin ke visualisasi yang menjawab pertanyaannya. Semua rasa yang berkecamuk membuatnya sengsara saat ini. Tujuh tahun. Di ulang tahunnya ke tujuh ini lah sebuah kejutan yang tidak diduganya didapatnya. Batinnya mendapatkan tekanan sedemikian rupa karena pagi ini. Mendapati Nora menangis di dapur, wajah pagi Bas dengan kelopak mata yang masih tertutup, dan kini pria itu. Yang bahkan tak dikenalnya. Namun begitu familiar. Begitu mengaduk emosinya. Perasaan tidak senang yang memacu mulas perutnya.

"Boleh kutahu kenapa?"

"Bukankah anda sudah bertanya terlalu jauh?"

"Siapa namamu?"

"Kurt. Kurt Wulfric Collins."

Tercelos begitu saja. Orang itu berdiri kemudian berjalan mendekati anak laki-laki Nora. Bahkan bibirnya memberikan sebuah senyuman. Yang entah bagaimana justru tidak terlihat teduh sama sekali. Ada berbagai makna dalam senyuman itu. Bahkan makna meremehkan. Meremehkan bahwa si kecil Kurt hidup dengan cara milik Nora; dimana tidak apa-apa jika tidak tahu sama sekali soal ayah kandung mereka. Sebenarnya bukan masalah untuk Kurt meski itu menggantung di benaknya, tetapi begitu melihat senyuman pria yang berdiri dengan jarak hanya beberapa meter dengannya kini membuatnya muak.

"Bagaimana kabar Nora?"

"Anda mengenalnya." Menuntut sebuah konfirmasi nyata. Bahkan kedua obsidian itu balik menatap obsidian milik lawan bicaranya tanpa gentar.

"Tentu. Aku mengenalnya. Dia kawan lamaku."

Lalu hanya anggukan yang dilakukan si kecil Kurt. Visualisasi kelam itu berjalan mendekat, bahkan kini berjongkok. Memaksakan diri untuk bertatap langsung dengan adam kecil milik Nora. Obsidian bertemu obsidian. Keduanya tidak bisa menebak emosi satu sama lain; antara rasa rindu yang begitu dalam, rasa marah, atau isak tangis sedih. "Bisa kutemui lagi kau disini, Kurt?"

"Kapan tepatnya?"

"Satu tahun lagi, di jalanan ini. Pada jam yang sama. Tepat di ulang tahun ke delapanmu."

.


.


.


Satu hari mendekati angka satu tahun setelah pertemuan si kecil Kurt dengan pria anonim. Sebuah kecelakaan kecil. Kali terakhir yang diingatnya adalah sebuah truk menyambar mobil Nora. Manik yang terakhir dilihatnya adalah manik saudara kembarnya. Bertukar paham dalam kebisuan. Seolah mereka tahu bahwa peristiwa ini akan menjadi sebuah rutinitas tahunan; melibatkan diri mereka sendiri nyaris dalam kematian. Dan kini Kurt kecil ada pada sebuah lorong panjang. Sebuah jalanan sempit yang diingatnya. Yang begitu familiar dengan adam yang ditemuinya tepat satu tahun lalu. Tepat satu tahun lalu. Ada bunyi detik jarum jam. Memecah keheningan. Lambat laun, si kecil sadar dengan kehadiran pria tersebut. "Kau anubis, ya?"

Sang pria mengulum senyum sederhana. Masih sama tak tertebaknya antara begitu sendu, rindu, atau meremehkan. Tangan itu meraih puncak kepala Kurt Collins. Mengusapnya penuh asa. Penuh pengharapan. Kepala anak laki-laki Nora menengadah. Memandang wajah pria itu. Sebuah isyarat berbahaya seolah menjadi palang disana. "Tidak ada istilah anubis dalam duniaku, nak."

"Lalu?"

"Aku dari mitologi Yunani."

Seketika adam kecil itu paham. Tetapi kepalanya digelengkan. Melakukan penolakan halus lalu mengambil beberapa langkah ke belakang. Kecelakaan itu telah dirancang oleh sang dewa. Dirancang sedemikian rupa hingga Kurt tak menyadari bahwa beberapa detik sebelum truk itu kehilangan kendali, obsidiannya menangkap siluet sang dewa. "Nora dan Basil masih membutuhkan Kurt."

"Tidak, Kurt. Ayahmu lebih membutuhkanmu." Pria itu menjelaskan sesederhana yang ia bisa. Tanpa panjang lebar yang akan dengan serta merta diindahkan oleh gendang telinga pemuda cilik di depannya. Raut wajahnya menjabarkan kebutuhan. Menjabarkan betapa rakusnya ia dengan kalimat itu. Kalimat yang telah diucapkannya. Menuntut si kecil untuk mengiyakan. Obsidian itu bahkan berkilat. Merunduk menatap wajah naif itu menengadah ke arahnya. "Beliau meninggalkan keluarga kecil kami, bagaimana bisa ia mengucapkan hal itu?"

Jawaban itu bukan harapannya. Bukan asa yang dipupuknya sebelum kembali menemui puteranya. Satu dari kedua puteranya. Yang begitu mengingatkannya pada sikap Nora. Wanita itu bahkan menepis kata gentar tiap kali bertukar kata dengannya. Tiap kali jemarinya digamit dengan milik Collins. Setiap benang merah yang dijalin dengan Nora, menyisakan kenangan permanen. Tanpa penghapusan meski sekecil apapun.

Lalu ada dengus halus yang ia ciptakan. Dewa kematian itu bahkan mengulurkan tangannya. Menepuk puncak kepala seorang puteranya. "Karena ia sendiri. Ia terpuruk." Raut wajah itu kembali memudar. Bayangannya bahkan kini terlihat samar perlahan. Anak kecil di hadapannya menatap jemari sang pria, meraih dalam genggaman mungilnya sembari tersenyum meski wajahnya pias. "Kalau begitu bilang padanya untuk kembali muncul dalam kehidupan Nora."

Jeda itu kemudian begitu lama. Guratan di wajah sang dewa bahkan berbayang. Seolah pertemuan ini seperti hologram. Gelengan lemah sesudahnya. Mengisyaratkan dua suku kata sebagai penolakan. "Tidak bisa."

"Kenapa?"

"....." Jawaban itu yang hanya bisa ia berikan. Tidak lebih. Penjabaran mengenai siapa ia dan hubungannya dengan Kurt tidak akan membantunya untuk menjadi lebih baik. Justru buruk karena indikasi pada kedua puteranya. "Pak?"

"Pun kau bersikap berbeda seperti anak kecil kebanyakan, ada kalanya kau harus tahu batasan. Kurt, nak, kau tidak akan paham mengenai dunianya dan duniamu sendiri. Aturan demi aturan yang mengekang serta kebencian yang ditujukan hanya padanya tidak akan rela ia bagi pada siapapun. Terlebih Nora." Secara tersirat namun tegas ia melarang Kurt untuk bertanya lebih jauh lagi. Untuk segera menutup pita suaranya berseru lebih.

"Bukankah itu guna keluarga?" Bukanlah sebuah jawaban yang ia duga. Ada bening di sudut matanya. Sebuah titik melankolis yang kali pertama ia teteskan. Karena pengucapan kata keluarga dari bibir puteranya yang notabene sudah nyaris satu dekade tak ia temui. Dari bibir puteranya dan wanita yang begitu ia cintai. Tangan-tangannya meraih puncak kepala Kurt. Kemudian membenamkannya dalam pelukan sederhana. "Kau tak mau menemuinya, Kurt?"

"Aku memilih melindungi Nora bersama Basil. Menggantikan ketidak bertanggung jawabannya."

Kali ini sebuah keputusasaan. Ia tak bisa memaksa lebih jauh lagi pada anak lelaki di hadapannya. Ia tidak akan tega membiarkan Nora merana lebih jauh lagi. Sang dewa kemudian melepaskan pelukannya. Merogoh saku dari tuniknya, mengeluarkan rantai kalung berwarna baja. Kemudian mencabut satu sayapnya dengan erangan sebelum dengan sihir dewa ia ubah menjadi sebuah kalung. Meletakannya di telapak tangan puteranya. "Aku akan merindukanmu, Kurt. Sampaikan salam rinduku pada Nora."

Kurt menatap kalung itu. Menengadah sekali lagi dan memakainya. Menyimpannya dengan baik di balik kaus hitamnya. Dengan sebuah senyum terakhir seolah mereka melakukan perjanjian dan ia sudah cukup puas karenanya. "Akan kusampaikan, pak."

Anak kecil itu berbalik. Menyimpan isaknya sendiri sebelum bisa ia dengar suara itu bergaung dalam kegelapan. "Dan Kurt." Diam yang kembali merajai. Meminta keduanya untuk saling berbalik. Saling membuka suara bahwa ada keperluan mendesak lainnya yang ingin mereka utarakan. "Terima kasih untuk segalanya."

Tangis itu pecah dari anak lelakinya. Suaranya bergetar. Terdengar pilu. "Kembali untukmu." Akhir dari sebuah kisah dalam bunga tidurnya. Yang tanpa ia sadari, kemungkinan bertemu pria tersebut hampir sama dengan mustahil.



.

.

.



Winter, 2000. 7 AM

Kurt mencoba membuka matanya lebih lebar. Pemuda itu sedang tidak berniat untuk bergegas bangun dan menjumpai Nora di dapur. Ada wangi harum roti bakar seperti biasanya. Lalu tercium aroma kopi hitam. Sebenarnya wanita itu sudah melarang kedua putra kembarnya untuk mengonsumsi kopi seperti dewasa kebanyakan. Sayangnya begitu dicekoki minuman untuk usia yang pantas bagi Kurt dan Basil, pemuda itu langsung mengambil langkah untuk tak pernah menerima tawaran ke arah sana lagi lantaran seharian penuh ia harus berkutat di toilet. Air mineral masih bisa ia terima. Tetapi glukosa berlebihan dan aroma buah, Kurt akan pikir dua kali.

November, 2nd. And it's Thursday.


Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding ulang tahun yang dibarengi dengan peringatan untuk orang mati di Meksiko. Mungkin perlu diselipkan sindiran lainnya karena hari dimana harusnya dua pemuda cilik berbahagia untuk bertambahanya umur mereka, belahan dunia lain justru merayakannya dengan duka. Bukannya ia akan memberikan protes pada Nora karena melahirkan mereka pada tanggal itu—lelucon macam apa juga yang terlintas di benak Kurt karena melontarkan protes semacam itu—tetapi suasana mencekam jadi seolah tidak bisa menjauh dari kehidupan dua blasteran ini.

"Wake up, you sleepyhead." Bantal yang dijadikan tumpuan ditekankan di wajah kembarannya. Kepergian pak Jev membuatnya jauh lebih hati-hati dalam bertindak. Menekankan di kepalanya bahwa segala tindak gegabah memungkinkan keluarganya dalam masalah besar. Tidak hanya Nora, tetapi juga Basil. Mungkin ini akan terdengar sangat melankolis—tapi berani saja satu dari makhluk biadab itu menyentuh kembarannya, Kurt bisa bertindak berlipat kali lebih sadis dan kejam. Masa bodoh dengan kemungkinan luka dan kehilangan nyawa.

"Boys, almost late for school." Nora dengan suara yang hampir dirindukan oleh Kurt selama hari-harinya di perkemahan. Perkemahan dengan euforia kegiatan tidak membuatnya nyaman sekali. Pemuda itu memilih menarik diri dari keramaian. Hanya satu yang diingat oleh kepalanya, anak perempuan aneh yang mengajaknya tanding menaiki dinding panjat. Berakhir dengan tidak menarik.

Obsidiannya melirik ke kembarannya yang nampaknya masih pulas bergelung dengan bunga tidur. Mendengus pelan, tangannya di arahkan ke kepala kembarannya dan memberikan salam selamat pagi dengan tamparan. Mungkin ini kebiasaan satu dari keduanya jika salah satu dari mereka tidak segera beranjak dari peraduan mereka. "Bangun dan ucapkan selamat ulang tahun untuk kita, tukang tidur." Ini ulang tahun ke sebelasnya. Dan pria itu tidak pernah sekalipun muncul lagi dalam bunga tidurnya. Jika akhir yang bahagia memang ada, seharusnya ia masih bisa menatap gurat wajah sang dewa. Bukan begitu?

FIN



comment? / top