-theycallmetheendofstories


The Owner

theycallmetheendofstory
Hanya seorang penulis yang merasa dan mengaku bahwa dirinya seorang Slytherin. Seratus persen berasal dari distrik Karier. Sering kali mengalami penyakit dengan judul writer's block dan mager. Seorang koleris-melankolis. Sick, biaswhore, bipolar—that's enough.
let's play! :)

Hwat? Mischief managed Nox!

Well?
Sejauh ini saya menyukai dunia baca dan tulis. Belum berani mengaplikasikan tulisan saya ke umum karena penyakit saya sendiri (all hail writer's block dan mager!). Bukan penulis yang baik, jadi maklumi saja jika ada alur atau diksi saya yang membuat kalian mual, muak, bahkan malas untuk membacanya lagi.
Oh wait, am I need some chatbox?

friends
your links go here,
tumblr

thanks
© * étoile filante
inspiration/colours: mintyapple
icons: me reference: x / x

past
July 2010
September 2010
October 2010
May 2012
June 2012
October 2012
title: Begitulah // Oneshot // T
date: Wednesday, October 20, 2010
time:1:35 AM
Begitulah // Oneshot // T
Genre: Shounen Ai
Setting: Tahun ketiga Albus Potter, Rose Weasley, dan Scorpius Malfoy
Disclaimer: All character adalah milik bunda Jo.
PS: Don't like? Don't read. Thanks :)


Pemuda berambut pirang itu menarik kursinya. Sekali lagi kursi di sampingnya kosong. Ia menghela napas panjang. Sudah tiga hari ini Albus demam tinggi. Madam Pomfrey bilang bahwa Albus mungkin hanya terserang flu biasa dan homesick. Memang sebelumnya Al selalu mengeluh pada Scorp, pemuda pirang itu bahwa ia sangat merindukan ibunya.
"Dasar anak mami," gerutu Scorpius saat ia mengingat kata-kata Madam Pomfrey. Akhir-akhir ini ia sering kesal karena mengikuti semua kelas tanpa Al. Rasa lapar yang tadi menghampirinya mendadak hilang sehingga ia menarik diri dari mejanya dan berjalan ke luar Aula Besar.
"Hai Scorp!," sapa Rose saat melihat Scorpius bersungut-sungut di lorong sendirian. Yang disapa berlalu begitu saja, seperti tak mendengar sapaan tadi.
"Oi!," teriak Rose sekali lagi sehingga murid satu lorong menatapnya. Rose menunduk malu dan berlari menghampiri pemuda berambut pirang itu dan menepuk pundaknya keras-keras.
"Demi celana Merlin! Rose! Kau mengejutkanku!," ucap Scorpius kesal. Ia memegangi pundaknya yang ditepuk Rose tadi.
"Kau tuli rupanya, Scorpie! Aku sudah memanggilmu sedari tadi, bodoh!"
Scorpius menutup telinganya dengan kedua tangannya dan berjalan mundur. "Kau tak perlu berteriak, kawan. Ada apa?" Pemuda itu masih memegangi telinganya dan menyeringai.
"Tidak ada apa-apa. Ada apa denganmu?"
Sekali lagi ia menghela napas panjang. "Aku merindukan Albus. Sudah tiga hari ini ia sakit. Madam Pomfrey tak mengijinkan siapapun untuk menengoknya."
Rose tertawa geli kemudian menepuk-nepuk pundak pemuda itu lagi.
"Dia mencarimu tadi ke Aula Besar, bodoh. Kemana saja kau? Kudengar ia meminta ijin untuk pulang sore ini -lagipula liburan Natal sudah dekat bukan? Sekalian pulang untuk berlibur sepertinya. Uncle Harry yang akan menjemput Al. James sempat menggerutu dan protes karena tidak diijinkan pulang bersama mereka." Scorpius terkesiap kemudian memegang pundak gadis itu.
"Sungguh?! Dimana ia sekarang?!"
"Aw! Kau tak perlu berteriak di depan mukaku!"
"Sorry. Dimana Al sekarang?," tanya Scorpius, tampak tak sabar. Gadis itu membetulkan jubahnya dan menunjuk ke arah kantor Kepala Sekolah.
"Kurasa uncle Harry sudah datang dan kini Al disana. Mereka mau ber-apparate pulang karena perapian di rumah uncle Harry sedang rusak." Setelah Rose menyelesaikan kalimatnya, Scorpius segera berlari menuju kantor Kepala Sekolah. Gadis tadi hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang satu itu. Scorpius adalah tipe orang yang pendiam, sedikit narsis, sarkastik, dan dipuja banyak gadis. Tak beda jauh dengan ayahnya, Draco Malfoy. Tapi jika sesuatu terjadi pada Albus, anak dari pamannya, ia bisa menjadi galak, tidak sabaran, dan selalu tampak khawatir. Kadang Al sampai protes karena jika bersamanya, Scorpius selalu cerewet dan jahil, melebihi kakaknya sendiri, James.
Sudah lima menit Scorpius berdiri di depan gargoyle sialan itu. Scorpius tak bisa masuk ke dalamnya karena tak pernah sekalipun ia berkunjung ke dalam kantor Kepala Sekolah mereka.
"Bagus sekali, aku lupa menanyakan kodenya ke Rose. Sial!," rutuk Scorpius saat melihat gargoyle-gargoyle itu menahannya di depan tangga menuju ruang Kepala Sekolah.
"Pasti ia sudah pulang. Ya sudahlah, aku kembali ke asrama saja," batin pemuda itu sedih. Tiga hari tak bertemu pemuda berambut berantakan itu saja membuatnya seperti ini, bagaimana jika lebih lama? Ia rasa ia akan kehilangan akal sehatnya jika tak bertemu Al lebih lama lagi. Untuk kesekian kalinya lagi ia menghela napas panjang. Langkahnya gontai saat menyusuri lorong menuju asramanya.
"Scorp! Darimana saja kau?! Al sedari tadi mencarimu!," ucap salah satu teman asramanya. Scorpius mendongak dan bertanya kemana Albus sekarang. Teman asramanya hanya menggeleng kemudian menyerahkan sebuah surat berwarna hitam ke pemuda itu.

Dear Scorpius,
Kau dimana sih? Aku mencarimu ke seluruh tempat tau! Aku pulang hari ini dengan ayahku dan mungkin akan kembali setelah liburan Natal. Demamku sudah turun -takut kau bertanya, jadi jangan cemaskan aku, oke? Saat aku kembali ke Hogwarts, aku pinjam catatanmu jadi rajin-rajinlah mencatat.

Sahabatmu,
Albus Severus Potter



Scorpius hanya menghela napas sekali lagi setelah membaca surat itu. Yang ada di pikirannya kini hanya satu, dia ingin bertemu dengan Albus, bukan yang lain.


&____&____&



Sudah tiga hari sejak Albus pulang bersama ayahnya. Scorpius menjadi pemurung dan sering sekali menghela napas. Kadang guru Herbologi mereka sampai kasihan jika melihat pemuda berambut pirang itu melamun menatap jendela laboratorium Herbologi.
"Ada apa denganmu, Malfoy?," tanya Neville saat mendapati Scorpius sekali lagi menghela napas menatap ke luar jendela. Scorpius gelagapan karena ternyata guru Herbologinya menyadari bahwa ia sedang tak menyimak materi darinya.
"Ah-er-uh tak ada apa-apa, Profesor. Saya hanya... sedikit merasa tak sehat," dalih Scorpius. Neville mengangguk mengerti kemudian menyuruh pemuda itu ke Hospital Wings menemui Madam Pomfrey.
Entah kenapa Scorpius merasa tanpa Albus, hidupnya menjadi kosong. Tak ada semangat sedikit pun untuk mengikuti semua pelajaran tanpa pemuda berambut berantakan itu di dekatnya.
"Kurasa kau hanya perlu beristirahat. Semalam di Hospital Wings sepertinya cukup," ucap Madam Pomfrey setelah mengecek keadaan Scorpius. Tapi karena tak fokus, ia tak mendengarkan ucapan matron Hogwarts tadi dengan seksama.
"Ya, er-maaf-apa yang anda katakan tadi, Madam,?," tanya pemuda itu. Madam Pomfrey tersenyum dan memberikan baju ganti untuk pemuda itu.
"Istirahatlah semalam di Hospital Wings. Aku ada di sana jika kau membutuhkanku," tutur Madam Pomfrey sembari menunjuk mejanya. Scorpius mengangguk perlahan kemudian menutup tirai di sekitar tempat tidurnya. Setelah berganti baju, ia hanya bisa merebahkan badannya dan membiarkan pikirannya melayang. Bayang wajah Albus tetap memenuhi pikirannya dan sesekali dia berteriak kecil jika bayang-bayang itu terlalu lama di benaknya. Jika sudah seperti itu, Madam Pomfrey segera mendekatinya dan bertanya, "Bagian mana yang sakit?" dan pemuda itu hanya menggeleng malu.
"Aku bisa gila jika tak bertemu Albus lebih dari ini. Aku harus segera bertemu Al!," batinnya. Tapi saat ia ingin bangkit dan berjalan menuju luar Hospital Wings, badannya terasa lemas. Kepalanya mendadak pusing dan berat. Matanya terasa panas dan badannya menggigil hebat. Scorpius berusaha memanggil Madam Pomfrey tapi bibirnya terasa kaku. Karena tak bisa melakukan apapun, ia terpaksa memejamkan matanya dan membiarkan dirinya tertidur.
Esoknya, bukannya semakin sembuh, keadaannya semakin memburuk. Mungkin ini semua karena ia sudah enam hari tak makan. Nafsu makannya hilang semenjak Al sakit.
"Kurasa, kau dan Potter mengidap penyakit yang sama. Akan kukirim surat untuk ayahmu agar ia menjemputmu nanti malam," ucap Madam Pomfrey. Scorpius kini hanya mengangguk patuh.
Setelah Draco datang, ia segera menggotong anaknya dan membawanya pulang. Saat di perjalanan pulang ia hanya menggerutu panjang dan menganggap Madam Pomfrey payah karena tak sanggup menyembuhkan anak semata wayangnya.
"Aku lelah, Dad. Bisakah Dad berhenti mengomel sebentar?"
"Oke, baiklah. Istirahatlah," ucap Draco saat melihat anaknya.
Malamnya, setelah berganti baju dan makan malam, Scorpius melihat kalender yang menempel di dinding kamarnya. Di dekatnya terpasang fotonya dan Albus yang sedang tertawa.
"Bagaimana kabarmu kawan?," lirihnya. Belum sempat ia memikirkan sahabatnya yang satu itu lagi, ada seseorang yang menjawab, "Aku baik-baik saja, bodoh! Dan kenapa kau sakit?! Merindukan aku, eh?"
Pemuda itu menoleh dan tampak tak percaya melihat Albus beserta ayahnya berdiri di depan pintu.
"Kurasa pemuda cilik kita sudah sehat dan segar begitu bertemu satu sama lain," ledek Harry kemudian melirik Draco yang bersungut-sungut karena kedatangan Harry yang tiba-tiba.
"Tak berubah eh? Santo Potter! Sudah lama kau tak kemari dengan Al. Mana Lily? Aku merindukan si cantik Lily."
"Di bawah bersama Ginny dan Astoria. Ia memaksa ikut pulang kemarin karena tak mau merasakan natal di Hogwarts. Ada apa denganmu musang? Kurasa Astoria tak keberatan jika kami kemari. Ia yang mengirim burung hantu pada kami."
Draco tersenyum kemudian memeluk Harry. "Tentu tidak, kawan! Selamat datang di Malfoy Manor." Pemandangan yang biasa dilihat jika mereka bertemu semenjak tahun lalu.
"Al! Merlin! Kau tak bilang mau kesini!," ucap Scorpius setengah berteriak kemudian memeluk sahabat dekatnya. Al hanya tertawa kemudian balas memeluk.
"Yah.... Kejutan yang manis bukan? Hahahaha."
"Ya ya ya. Terima kasih untuk pahlawan cilik kita," ucap Scorpius dan dibalas dengan gelak tawa dari Al.
"Sama-sama hahahaha. Bagaimana kabarmu? Masih sakit eh? Dasar bodoh! Merindukanku sampai sakit seperti ini? Parah sekali hahahaha," ledek Albus. Scorpius hanya tersenyum. Sudah lama tak ia dengar tawa khas pemuda itu sepertinya.
"Kau akan menginap?"
"Well-yeah, jika kau memaksa," ucap Albus sembari menyeringai dan diikuti dengan tepukan kecil di bahunya. Ia menoleh dan mendapati kedua orang tuanya di belakangnya.
"Kami akan mengantar pakaian gantimu besok pagi. Baik-baiklah dan jangan merepotkan Uncle Draco dan Auntie Astoria. Mengerti?," tanya Ginny, ibu dari Al.
"Ya, Mum." Albus mengangguk cepat kemudian melirik Scorpius. Rasanya senang sekali bertemu dengan pemuda berambut pirang itu.
"Hai Scorpie," sapa Lily dari belakang tubuh Harry. Ia tersenyum kecil menatap pemuda itu.
"Hai Lily. Aku tak tahu kau akan kesini juga. Kau juga menginap?," tanya Scorpius sembari mendekati gadis berambut jahe itu.
"Tidak. Aku lebih memilih di Godric Hollows saja bersama Mum dan Dad. Albus lebih menyayangimu daripada Mum dan Dad." Detik itu juga Scorpius merasa tersetrum listrik. Ia harap itu benar. Tetapi segera ia tutupi salah tingkahnya dengan tertawa.
"Kami pulang dulu nak. Titip Al ya," ucap Harry sembari menepuk pundak Scorpius.
"Tenang uncle Harry! Al aman disini!"
Harry mengangguk kemudian ber-apparate bersama istri dan anak bungsunya meninggalkan Malfoy Manor.
"Kau sudah makan Al?," tanya Scorpius. Pemuda berambut berantakan itu mengangguk. Setelah kepergian orang tuanya, ia memilih untuk diam dan terus tersenyum menatap pemuda berambut pirang yang sudah terlihat lebih ceria.
"Scorp, aku.... ingin mengaku sesuatu padamu. Tapi, setelah aku mengucapkan hal ini, apakah kita akan tetap bersahabat?"
Scorpius terdiam kemudian menatap Albus dan tersenyum. Dirasakan detak jantungnya berlarian saat matanya dan mata Albus bertemu.
"Tentu kawan. Ada apa?"
Albus diam kemudian memegang bahu pemuda berambut pirang itu. Telapak tangannya terasa dingin.
"Kau masih sakit Al?," tanya Scorpius cemas saat memegang tangan pemuda itu. Albus menggeleng perlahan. Ia menunduk sejenak kemudian mendorong pemuda itu ke dinding kamar.
"A... aku...." Belum sempat ia selesaikan kalimatnya, dirasakannya sensasi hangat di bibirnya. Setengah percaya, setengah tidak, bibirnya dan bibir Scorpius sedang bersentuhan satu sama lain. Lima menit mereka dalam posisi itu dan segera menjauh karena kebutuhan oksigen yang memaksa.
"Ma-ma-maaf kawan. A-a-aku...," ucap Scorpius terbata. Ia menatap Albus yang masih tampak kelelahan dan tak percaya sekaligus tolol.
"Kurasa aku sudah mendapat jawabannya," jawab Al. Scorpius melongo sesaat kemudian tersenyum.
"Sejak kapan?," tanyanya kemudian menatap hangat ke arah pemuda berambut berantakan itu.
"Kau?"
"Sejak kita bertemu pastinya."
"Sama denganku kawan," jawab Al kemudian menempelkan sesaat bibirnya dengan bibir pemuda berambut pirang itu. Setelah melepaskan diri satu sama lain dan berganti baju, mereka tidur dalam satu tempat tidur sembari menggenggam tangan masing-masing.
"Kita masih bersahabat?," tanya Al. Scorpius mengecup kening pemuda itu.
"Bodoh. Lebih dari itu, tentunya." Pemuda berambut berantakan itu tersenyum senang.
"Benarkah?" Ia menggenggam tangan Scorpius dengan penuh rasa sayang.
"Begitulah."
Kemudian mereka tertidur dengan lelap. Tanpa demam dan rasa cemas melanda satu sama lain.


&___&___&



"Hei Al. Ngomong-ngomong kau sakit karena apa?"
Albus tersenyum kemudian berbisik, "Karena aku memikirkan bagaimana cara untuk menyampaikan itu semua padamu." Scorpius hanya tersenyum mendengarnya.

Labels: , , ,



comment? / top