-theycallmetheendofstories


The Owner

theycallmetheendofstory
Hanya seorang penulis yang merasa dan mengaku bahwa dirinya seorang Slytherin. Seratus persen berasal dari distrik Karier. Sering kali mengalami penyakit dengan judul writer's block dan mager. Seorang koleris-melankolis. Sick, biaswhore, bipolar—that's enough.
let's play! :)

Hwat? Mischief managed Nox!

Well?
Sejauh ini saya menyukai dunia baca dan tulis. Belum berani mengaplikasikan tulisan saya ke umum karena penyakit saya sendiri (all hail writer's block dan mager!). Bukan penulis yang baik, jadi maklumi saja jika ada alur atau diksi saya yang membuat kalian mual, muak, bahkan malas untuk membacanya lagi.
Oh wait, am I need some chatbox?

friends
your links go here,
tumblr

thanks
© * étoile filante
inspiration/colours: mintyapple
icons: me reference: x / x

past
July 2010
September 2010
October 2010
May 2012
June 2012
October 2012
title: After two generations? Oh Merlin!
date: Sunday, July 25, 2010
time:10:48 PM
After two generations. Oh Merlin!

Cast: Of course, Professor McGonagall, The Marauders and The Twins
(dan bala tentara mereka) *plak*
Disclaimer: Semua punya bunda Joanna :)
PS: Ini fanfiction. Semua bisa terjadi disini HAHAHAHAHAHA *tawa iblis*
Ini rada-rada dialogue-fic yaa. Dan fanfic yang ini emang engga lucu. Lagi kehabisa ide jayus untuk keenam tokoh sakit jiwa ini. Thank you~~


Pagi yang cerah dan sunyi. Awal pembelajaran memang sangat menyenangkan, tetapi nampaknya tidak untuk Prof. McGonagall. Dia terlihat cukup stress mengingat bahwa hari ini dia harus bertemu dengan 4 murid dari asramanya yang selalu, perlu diulangkah? SELALU membuatnya pusing tujuh keliling.

Pertama, James Potter. Semua mengenalnya. Siapa yang tak mengenal seorang James Potter? Seorang seeker, Gryffindor, tampan, berkacamata, dan.... salah satu dari empat sekawan yang menamakan diri mereka adalah The Marauders. Si perusuh hebat yang sudah satu tahun terakhir ini kehilangan rasa malu dan mungkin juga kewarasannya karena dengan terang-terangan mengejar seorang Lily Evans. Pernah sekali Professor McGonagall merasa ia harus cuti dari pekerjaannya karena tingkah James, yaitu membuat ramuan cinta untuk Lily yang akhirnya berujung dengan meledaknya sebagian ruang rekreasi Gryffindor. Ia salah memasukkan salah satu bahan yang menjadikan ramuan cinta itu menjadi ramuan bom atom.

Kedua, Sirius Black. Laki-laki ini tak jauh berbeda dengan sahabat karibnya, James Potter. Bahkan lebih tepatnya ia adalah copyan dari seorang James Potter. Ia sering sekali menjahili murid-murid dari asrama Slytherin sehingga kadang Professor Slughorn ingin sekali menangis melihat murid-murid di asramanya dikerjai habis-habisan oleh Black dan Potter. Pernah sekali James dan Black mengerjai seorang murid dari asrama Slytherin yang berakhir dengan detensi dua minggu penuh bersama Flich. Mereka berhasil membuat Snape memiliki badan sama besarnya dengan Troll dengan rambut panjang dan kulit berwarna hijau pucat yang membuatnya lebih seperti Buto Ijo, Troll versi Indonesia.

Ketiga, Peter Pettigrew. Sebenarnya dia anak baik dan penurut. Dia hanya sedikit "error" saja. Tak memberi banyak masalah, hanya saja kadang Professor McGonagall suka menghela napas karena satu kebiasaan Peter yang tak pernah bisa berubah. Tiada hari tanpa mengunyah. Sebagian besar makanan yang disediakan di meja Gryffindor di Aula besar selalu masuk di perutnya, dan menurutnya.... itu masih kurang.

Terakhir, Remus Lupin. Mungkin di antara empat sekawan yang suka menyebut diri mereka adalah The Marauders, Lupin-lah yang paling menenangkan jiwa dan pikirannya. Anak yang pintar, membanggakan, dan seorang Prefek. Remus sangat tenang dan menyenangkan. Dia belum pernah mendapatkan sesuatu yang jelek dari muridnya yang satu ini. Belum pernah, sampai sekarang. Mungkin.


*-*-*-*


The 1st Day



"Selamat pagi Professor McGonagall," sapa Lily Evans saat melintas di depan guru Transfigurasi itu. McGonagall tersenyum.
"Pagi Evans. Senang melihatmu." Belum sempat Lily menjawabnya lagi, terdengar teriakan dari jauh.
"Lilyyyyyyy!! Tunggu akuuuuu!!!"
McGonagall menoleh dan menghela napasnya begitu mengetahui pemilik suara itu.
"Maaf Professor, saya harus menemui Professor Slughorn. Permisi." Kemudian Lily Evans pergi dengan tergesa-gesa melihat James Potter berlari ke arahnya.
"Lily!!!!" James masih berusaha mengejar pujaan hatinya sebelum....
"Potter, 5 poin dikurangi dari Gryffindor karena berteriak-teriak di sepanjang koridor," ucap McGonagall. Ia rasakan kepalanya pusing setiap melihat salah satu dari The Marauders.
"Loh? Tapi professor, kok harus saya? Kan ada juga yang berteriak-teriak!," protes James.
"Siapa?"
"Errrr...."
"Hey Longbottom! Aku...." Belum sempat Petigrew menyelesaikan kalimatnya, James menunjuknya.
"Itu! Pete, professor! Dia tadi berteriak ke arah Longbottom!" Yang dituduh tersentak kaget dan menggeleng cepat.
McGonagall memegangi kepalanya, senut senut senut. Dirasakan stress menyerangnya lagi. Entah kenapa setiap berhadapan dengan Potter atau Black, ia selalu merasa ada beban berat menimpanya.
"Potter, ke ruanganku setelah semua pelajaran yang kau ambil hari ini selesai. Tidak ada alasan," ucap McGonagall kemudian meninggalkan Potter yang berdiri melongo menatap kepergian guru Transfigurasinya.

*-*-*-*



Tok... tok... tok...

"Masuklah Potter," ucap Professor McGonagall. Ia memijat-mijat kecil kepalanya.
"Permisi Professor," ucap James. Ternyata ia tak sendiri. Ya, seharusnya Professor McGonagall menduga ini. Pantas kepalanya terasa pusing sekali. Ada ketiga temannya di belakang.
"Kenapa kalian selalu berempat? Aduh..." Ia memegangi lagi kepalanya. Remus menatap guru Transfigurasinya dengan pandangan tak tega.
"Professor, anda baik-baik saja?," tanyanya. Professor McGonagall mendongak dan menatap keempat anak didiknya.
"Duduklah kalian."
Keempat pemuda Gryffindor itu duduk dengan tenang dan rapi. Tak seperti biasanya.
"Kalian mau cokelat? Atau teh?," tawar McGonagall.
"Professor, jika Anda ingin memberi saya detensi bersama si squi-eh-maksud saya bersama Tuan Flich, saya rela professor," ucap James. Ada nada sungguh-sungguh disana. Sepertinya keempat pemuda tadi merasa tak tega melihat guru kesayangan mereka berulang kali memijat kepalanya.
"Tidak Potter. Aku tak akan memberimu detensi bersama Flich. Aku tahu persis tak ada murid yang menyukainya," ucap McGonagall. Ia menghela napas sebentar kemudian menatap James, Sirius, Remus, dan Peter secara bergantian. Mereka begitu tenang saat ini. Seandainya saja mereka bisa seperti itu setiap saat, betapa bahagianya Professor McGonagall. Seandainya.
"Professor, anda jauh lebih menakutkan jika seperti ini. Saya lebih senang langsung mendapatkan detensi dari anda, Professor," ucap James. Professor McGonagall menatapnya lekat-lekat.
"Jika aku boleh jujur, Potter. Aku lelah dengan ulahmu dan ulah Black. Dan kau juga, Petigrew!"
"Bagaimana dengan Remus, Professor?," tanya Sirius. Ia memajukan bibirnya karena nama Lupin tak disebut. Yang tak disebut namanya hanya melirik sahabatnya yang sirik itu kemudian menatap guru Transfigurasinya.
"Aku punya permohonan untuk kalian berempat. Dan aku benar-benar memohon," tutur Professor McGonagall. Ia tampak sangat frustasi.
"Y-y-y-y-ya pr-pr-prof-professor?" Peter menatap takut-takut ke gurunya itu.
"Untuk Potter, tolong sebulan saja kau bersikap normal. Jangan berteriak-teriak seperti di koridor tadi pagi, jangan mengerjai guru-guru lain, dan murid dari asrama lain." James Potter menelan ludahnya. Se-se-sebulan? Dia harus bersikap tak wajar dalam sebulan? Ya. Diam untuk seorang Potter berarti sama saja menjejerkan dirinya sendiri dengan Snivellus Snape sialan itu.
"Dan untukmu, Black. Berhentilah mengerjai murid-murid Slytherin. DAN TENTUNYA MURID ASRAMA LAIN! Berkonsentrasilah dengan prestasimu, Black. Aku cukup pusing dengan nilai-nilaimu dan Potter!" McGonagall menatap dua pemuda itu dengan sengit. Tapi berusaha ia tahan amarahnya.
"Untukmu Peter, berhentilah menghabiskan jatah makanan untuk Gryffindor! Dan belajarlah dengan benar!"
Professor McGonagall menarik napas sejenak kemudian menatap Lupin. Pemuda itu terlihat begitu polos, dan satu yang menjadi pertanyaan Professor McGonagall jika melihatnya. Apakah Lupin sudah kehilangan kewarasannya sehingga ia berteman dengan dua perusuh Hogwarts dan si tambun Peter?
"Lupin...."
Begitu nama Remus disebut, ketiga temannya langsung tersenyum puas. Mereka mengira manusia serigala itu akan mendapatkan hukuman juga (yang menurut mereka lebih berat dibandingkan dengan detensi).
"Ya professor?," tanya Lupin tenang. Ia memang sudah terbiasa menerima hukuman tanpa sebab. Ia sering sekali dihukum oleh guru-guru hanya karena ia berteman dengan tiga bocah di sampingnya itu. Tetapi begitulah Lupin, ia tak mengeluh (di depan guru-guru). Namun jika tiga bocah itu kelewatan, Lupin tak segan-segan menghukum mereka juga.
"Kau.... tolong awasi teman-temanmu itu. Kau kuberi kebebasan untuk mentransfigurasi mereka jika mereka macam-macam." Dan sukseslah ketiga bocah itu melongo karena ucapan McGonagall tadi. Dan Lupin? Ia tersenyum dan mengangguk patuh. Pemuda itu melirik ketiga temannya, tercetak sebuah senyum penuh kemenangan di wajahnya.

*-*-*-*


Professor McGonagall menatap keempat muridnya. Lupin dengan tenang menikmati pai cheri di depan dengan sebuah buku di tangannya. Ia memang suka membaca, dimanapun dan kapanpun. Kemudian pandangannya beralih ke Peter Petigrew. Terlihat jelas pemuda itu menahan diri untuk tak menghabiskan makanan di meja. Guru Transfigurasi itu sempat tersenyum sebentar mendengar komentar Lily Evans.
"Kau sedang diet, Pete? Makanlah yang banyak. Aku tak biasa melihatmu makan sesedikit itu."
Professor McGonagall kemudian tersenyum kembali saat melihat dua perusuh itu tampak diam menikmati kudapan sore mereka. Tenang sekali rasanya Hogwarts tanpa ada ocehan kedua perusuh itu.
"Ada apa denganmu Potter? Evans mengacuhkanmu lagi huh? Kau memang pantas di acuhkan! Begitu pula denganmu darah pengkhianat!," ucap Malfoy saat melintasi James dan Sirius. Terlihat jelas bahwa Sirius mengepalkan tangannya, hendak menghajar Lucius dan teman-temannya tadi.
"Malfoy! Tiga puluh poin akan dikurangi dari Slytherin untuk kelakuanmu yang kurang sopan!," kata Professor McGonagall tiba-tiba. Seisi aula besar menoleh. Ada senyum puas di wajah James dan Sirius saat Lucius mendengar pernyataan kepala asrama Gryffindor tadi.

*-*-*-*


"Argh!! Masih berapa hari lagi sampai kita bisa bersikap normal?!," erang James saat malam harinya di ruang rekreasi Gryffindor.
"Well, masih ada satu minggu lagi Prongs. Bertahanlah." Remus berusaha menenangkan sahabatnya yang satu itu.
"Satu minggu?! Argh aku sudah sangat ingin menghajar Malfoy brengsek itu!!," lanjut Sirius. Tak kalah sengitnya dengan James.
"Aku sudah cukup kurus belum teman-teman? Aku rindu setengah lusin pai cheri dan permen-permen manis lainnya," keluh Peter dan disambut gelak tawa ketiga sahabatnya. Remus menatap ketiga sahabatnya. Dia benar-benar tak tega melihat mereka tersiksa seperti itu. Tapi menyenangkan juga, tak ada ribut-ribut di sepanjang koridor ataupun kelas. Hanya di ruang rekreasi. Cukup melegakan.
"James, bisa kita bicara sebentar?," tanya seorang gadis dari arah tangga kamar. The Marauders menoleh dan mendapati Lily Evans berdiri disana. James melongo karena kaget.
'Li-Lily? Dia memanggilku?,' pikir James. Ia segera bangkit dan mendekat ke arah Lily. Sebelum ia keluar ruang rekreasi bersama Lily, ia menoleh menatap sahabat-sahabatnya dan memberi pandangan wish-me-luck.
"Ada sisi positif dari hukuman ini bukan?," tanya Remus. Peter dan Sirius menoleh.
"Ya untuk Prongs! Dan tidak untukku, Mooney!!," bentak Sirius. Ia benar-benar kesal. Pemuda itu bangkit dan berjalan menuju kamar tidur. Rasanya dia akan meledak jika Remus mengeluarkan sepatah kata lagi. Lebih baik ia menenangkan dan mendinginkan kepalanya sebelum itu benar-benar terjadi.
"Bagaimana denganmu Pete? Ada dampak positifnya untukmu?," tanya Remus. Peter menoleh dan berusaha berpikir. Ya, yang dimaksud disini ia benar-benar berusaha untuk berpikir.
"Yah, setidaknya sekarang aku lebih ringan jika ingin melarikan diri dari Flich sialan itu," tutur Peter polos. Remus tertawa kecil mendengarnya.

*-*-*-*



Satu minggu kemudian

"Kulihat kalian benar-benar mengabulkan permohonanku, Potter, Black, Pettigrew, dan tentu kau... Lupin," ucap Professor McGonagall setelah The Marauders berkumpul di ruangannya.
"Anda tahu professor, apa saja untukmu. Hehehehe," tutur Pettigrew dan dia mendapat injakan kecil di kakinya yang dilakukan oleh James dan Sirius.
"Aw!," rintihnya. McGonagall tersenyum melihat mereka.
"Well, mulai besok kalian sudah boleh bersikap seperti biasa. Tapi ingat! Untukmu Potter! Jangan berteriak-teriak di koridor! Untukmu Black, bersikaplah seperti remaja normal. Jangan terlalu jahil! Pettigrew, jangan sampai aku mendapatimu menghabiskan jatah teman-teman se-asramamu!," kata McGonagall galak. Remus tersenyum mendengarnya.
"Professor, aku yang jahil adalah aku yang normal. Jika aku terus bersikap seperti kemarin, aku yakin ratusan gadis di Hogwarts lebih nekat daripada akhir-akhir ini," keluh Sirius dan disambut tawa ketiga sahabatnya. Mereka tahu benar bahwa sebulan ini Sirius dikirimi beratus-ratus cokelat, roti, pai, bunga, dan segala macamnya yang memiliki ramuan dan mantra cinta yang cukup kuat. Perlu buktinya? Minggu lalu Longbottom nyaris saja jadi korbannya karena ia yang menjadi 'burung hantu' untuk pesan-pesan itu. Begitu pula Weasley dan Spinnet.
"Terima kasih untukmu Remus," ucap McGonagall sembari menatap murid kesayangannya itu.
"Aku tidak melakukan apa-apa Professor. Teman-temanku lah yang seharusnya diberi penghargaan karena mampu melakukan tugasmu, dan seharusnya aku berterima kasih kepada Anda, Professor McGonagall. Hidupku tenang sekali selama sebulan ini. Tak ada keributan di koridor, tak ada keributan di kelas, dan tentu saja.... tak ada detensi," jawab Remus. Ia memang terlihat sangat senang karena peristiwa sebulan ini.
"Apa kau bilang Moony?," tanya James dengan pandangan akan-kuhabisi-kau-nanti.
"Tidak ada apa-apa James," jawab Lupin dengan polos. McGonagall tersenyum. Dia merindukan ocehan dua murid Gryffindor itu. Tak tahu kapan ia akan mendengar mereka bertengkar tidak penting seperti ini lagi, mengingat tahun depan adalah tahun terakhir mereka berempat.

*-*-*-*



Sembilan hingga sepuluh tahun kemudian

McGonagall masih setengah tak percaya mendengar kepergian Lily Evans dan James Potter yang begitu tragis. Sangat tragis. Killing curse yang dilontarkan oleh salah satu muridnya juga. Tom Riddle. Murid kesayangan Slughorn, seorang murid jenius yang tak pernah ia sangka akan menjadi sosok yang begitu gelap.
Guru Transfigurasi itu menghapus butiran air matanya dan segera mentransfigurasi dirinya menjadi seekor kucing dan pergi ke rumah itu. Ke rumah dimana anak kedua murid kesayangannya akan ditinggalkan. Rumah seorang muggle.
Setelah kedatangan Dumbledore dan meninggalkan Harry Potter, McGonagall kembali ke Hogwarts. Masa kelam itu sudah lewat, tak baik mengingatnya.

*-*-*-*



"Fred Weasley!," panggil topi tua itu. McGonagall memperhatikan anak laki-laki kecil itu. Ia tersenyum kecil saat mendengar Gryffindor diucapkan oleh topi itu. Begitu pula untuk kembarannya, George Weasley. Another Weasley di Gryffindor. Dia merasa lega, karena selama ini belum pernah ada keluarga Weasley yang membuatnya stress ataupun pusing seperti yang dilakukan The Marauders dulu. Wanita tua itu tersenyum sedih jika mengingat keempat murid kesayangannya. Kadang ia masih memikirkan mengapa harus James yang terbunuh. Mengapa Black harus terperangkap di Azkaban. Mengapa Pettigrew hilang dan hanya ada jarinya saja yang tersisa. Dan Lupin yang menghilang tanpa jejak.
Ia menghela napas sejenak kemudian tersenyum menatap si kembar di Gryffindor. Sepertinya akan menyenangkan.


*-*-*-*



Terulang lagi. McGonagall kembali memijat-mijat kecil kepalanya melihat kelakuan The 2nd generation of The Marauders. Ya, siapa lagi kalau bukan si kembar Weasley.
"Weasley! Ke ruanganku sekarang!," ucap wanita itu kemudian berjalan menuju ruangannya diikuti oleh dua muridnya. McGonagall menyuruh salah satu mereka menutup pintu ruangannya dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Ya professor?," ucap mereka bersamaan.
"Apa lagi kali ini?," tanya kepala asrama Gryffindor itu dengan pasrah. Rasa-rasanya ia memang perlu mengambil cuti karena ulah duo Weasley ini.
"Kami tak melakukan apa-apa," jawab George.
"Hanya saja kami ingin tahu," lanjut Fred. McGonagall mengernyitkan keningnya.
"Ingin tahu tentang?"
"Apakah benar--," ucap George kemudian dilanjutkan oleh saudaranya.
"--bahwa rambut professor Snape--"
"--benar-benar asli dan alami--"
"--karena rambut professor Snape--"
"--begitu halus--"
"--indah--"
"--dan keren--"
"--tapi menurut kami--"
"--ia terlalu banyak--"
"Menggunakan minyak rambut," ucap keduanya bersamaan kemudian Keduanya tersenyum. Detik itu juga McGonagall terperangah. Ya, generasi kedua dari James Potter dan Sirius Black telah datang ke Hogwarts dan siap-siap membuatnya stress lagi seperti dahulu.

*-*-*-*


"Apa lagi kali ini Weasley?" Sudah ribuan kali kalimat itu terlontar sejak tahun kemarin.
"Kami hanya menaruh cokelat, Professor," kata George. Ia menatap anak laki-laki di sampingnya.
"Cokelat kodok--," tutur Fred dengan wajah tak berdosa. Kemudian dilanjutkan oleh kembarannya.
"--yang enak dan lezat--"
"--sebagai hadiah--"
"--untuk tuan Flich--"
"--karena--"
"--telah membantu kami," ucap Fred dan George polos. Guru transfigurasi mereka membetulkan letak kacamatanya dan meminum air dari gelasnya.
"Kalian bukannya memberikan cokelat kodok, tapi kodok coklat. Kodok nyata, Weasley! Aku tak bisa ditipu." Ia meraih gelasnya lagi kemudian menatap isinya. Sebuah senyum menghiasi wajahnya. Ya, dia merindukan masa-masa seperti ini.

*-*-*-*


"Professor! Tolong George, professor!," ucap Fred cemas. Dia menggendong kembarannya di punggungnya dan menggedor-gedor ruangan McGonagall. Wanita tua itu membuka pintu ruangannya dan terkejut melihat muridnya berdiri disana.
"Ada apa Fred?," tanya McGonagall panik.
"Aku tak tahu professor. Badannya panas sekali. Mungkin ia flu karena badai saat Quiddicth kemarin. Tolong professor!!" Fred menatap McGonagall dengan tampang yang benar-benar memohon.
"Kita bawa ke Hospital Wings, Fred."
McGonagall menatap dua Weasley yang berjalan di sampingnya. Benar-benar mengingatkannya dengan James dan Sirius. Sirius akan selalu kalang kabut bila James sakit, begitu pula sebaliknya.
"Dia tak apa-apa. Hanya demam biasa. Biarkan ia semalam disini, Minerva," ucap Madam Pomfrey. Professor McGonagall tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke dua muridnya. Fred duduk di samping tempat tidur George. Ia tampak sangat cemas. Wanita itu mendekatinya dan menepuk pundaknya.
"Tak apa-apa, Fred. Dia hanya demam biasa. Kembalilah ke kamarmu," ucap wanita itu. Fred hanya menggeleng pelan.
"Aku akan ada disini sampai George sembuh. Maaf telah merepotkan Anda, professor. Dan terima kasih," ucapnya.
"Sudah menjadi tugasku Weasley." Ia tersenyum menatap dua anak laki-laki itu kemudian berjalan menuju pintu.
"Errr-professor!," panggil Fred. McGonagall menoleh dan tersenyum.
"Tolong jangan ceritakan hal ini ke siapapun. Termasuk ke adik kami, Ronald," ucap anak laki-laki itu dan disertai anggukan oleh guru transfigurasinya.

*-*-*-*



McGonagall berkeliling Hogwarts mencari duo perusuh itu. Di tangannya ia memegang sebuah badge dengan tulisan "Potter Bau". Yang satu ini benar-benar kelewatan.
"Weasley!! Ke ruanganku sekarang!!," teriak wanita itu begitu menemukan duo perusuh itu sedang berusaha menghindarinya.
"Baik professor," ucap keduanya bersamaan dan berjalan lesu mengikuti kepala asrama mereka. Ronald hanya tertawa senang melihat kakak kembarnya mengalami siksaan itu. Tapi tawanya segera berhenti begitu ia mendapati Fred dan George menatapnya dengan pandangan kau-cari-mati-adik-kecil.
"Jelaskan padaku tentang ini!," kata McGonagall sembari menunjukkan badge kuning dengan tulisan "Potter Bau".
"Itu apa, professor?," tanya keduanya polos. McGonagall menghela napas.
"Ini badge, kalau kalian tak tahu apa ini."
"Oh! Badge--"
"--berwarna kuning--"
"--yang indah--"
McGonagall menghela napas panjang lagi.
"Aku minta berhentilah berjualan barang seperti ini, Weasley."
Fred menatap George, begitu pula George. Kemudian mereka menatap guru kesayangan mereka.
"Maafkan kami professor," tutur mereka bersamaan. McGonagall mendongak dan tersenyum tipis.
"Aku terima maaf kalian, tapi tetap aku harus menulis surat untuk orang tua kalian," terang wanita itu. O-rang tu-a?!
"Errr professor, bisakah Anda mengirimkannya untuk Dad saja?," pinta George.
"Ya, errr- mum sedang sibuk," lanjut kembarannya.
"Sibuk?," tanya wanita di hadapan mereka dengan pandangan tak percaya. Sibuk bagaimana? Kemarin ia bertemu Molly Weasley saat pertandingan Naga itu berlangsung. Dia datang menjenguk Ginny Weasley. adik dari dua bersaudara ini.
"Ya! Errr- Mum sibuk..." George melirik kembarannya.
"Sibuk menanam jagung dan arisan professor! Maka dari itu mum tidak bisa diganggu!," kata Fred kemudian duo perusuh itu tersenyum manis.
"Well, sayang sekali Weasley. Ayah kalian sudah memintaku jika ingin mengirimkan laporan tentang anaknya, lebih baik melapor saja pada ibu kalian," terang McGonagall dan disambut ekspresi shock dari dua pemuda di depannya. Bisa dibayangkan Mum mereka datang atau menyiapkan surat sama seperti yang diterima adik mereka, Ronald Weasley pada saat kelas dua.

*-*-*-*


McGonagall kali ini tersenyum melihat tingkah duo weasley itu. Kejahilan mereka kali ini tak membuat seorang Minerva McGonagall jengkel ataupun stress, tapi cukup menghibur wanita itu. McGonagall masih hapal betul ekpresi si ko-eh-maksudku Professor Umbridge ketika si kembar mengerjainya. Tahun terakhir, dan sekali lagi McGonagall akan kehilangan orang yang bisa membuatnya pusing tujuh keliling (selain trio Gryffindor dan The Marauders).

Tok, tok, tok

Pintu ruangan wanita itu diketuk. Ia tersenyum begitu mendapati siapa yang berdiri di depan sana.
"Selamat ulang tahun, Professor!," tutur duo Weasley itu sembari membawa sebuah bungkusan cukup besar untuk professor kesayangan mereka.
"Terima kasih, Fred dan George. Ini.... benar-benar hadiah? Bukan..." Belum sempat guru Transfigurasi Hogwarts itu menyelesaikan kalimatnya, si kembar buru-buru menjawab.
"Kami tak akan tega!"
McGonagall tersenyum melihat mereka.

*-*-*-*



Sekali lagi, McGonagall berusaha menyembunyikan tangisnya. Fred Weasley dan Remus Lupin pergi untuk selamanya dalam Perang besar kedua kemarin. Hatinya masih terasa sakit harus kehilangan murid-murid kesayangannya. Tapi ada kelegaan, Voldemort sudah tiada. Dia tewas di tangan murid McGonagall dan horcruxnya sendiri, Harry Potter.
Besok Fred akan dimakamkan. McGonagall dapat melihat adanya kehilangan dari George. Tak ada lagi yang bisa menjadi perusuh di Hogwarts dan di Weasley. Kini George berdiri sendiri. Hanya ada Angelina di sampingnya, memeluknya. Berusaha menegarkan pria itu. McGonagall tersenyum sedih saat George menghampirinya dan mengatakan, "Ketakutanku menjadi nyata Professor. Sebagian jiwaku hilang."
Masih terukir jelas di pikiran McGonagall saat tahun lalu ia mendapat undangan khusus dalam pembukaan toko si kembar. Masih terukir jelas di benaknya saat Fred mengetuk pintunya, meminta tolong padanya saat George sakit. Masih sangat terukir jelas.
Tapi kini ia harus bisa menatap ke depan. Semua masa gelap itu benar-benar sudah berakhir, Voldemort sudah tiada dan para Death Eater pun sudah menerima ganjarannya.

*-*-*-*



McGonagall menatap tak percaya saat dia melihat dua sosok muridnya berdiri di depannya.
"James Potter?.....dan.. Fred Weasley?," ucapnya.
"Ya professor?," jawab mereka bersamaan. Di saat itu McGonagall tersenyum pasrah kemudian berkata dalam hatinya.
"Generasi ketiga? Oh Merlin, tidak lagi."

*-F.I.N-*

Labels: , , , , , , , , , , , , , ,



comment? / top